Langsung ke konten utama

Rapuh

Ketika aku rapuh, kau datang merengkuh..

walau jatuh cinta bukan tujuanku, nyaman dekatmu bermuara pada perasaan itu.

Kau terlalu sukar untuk kuabaikan, dan terlalu berat untuk kulewatkan.

Kamu baik waktu itu,

Meskti biasanya, aku tidak terjebak dengan cara-cara seperti itu, tapi berbeda kalau itu kamu.

Kusadari, aku baru saja terperangkap, dan untuk Kembali, pintu itu sudah tidak ada lagi.

 

Dia hanya membutuhkanmu, nyaman dekatmu, senang candamu, bukan mencintaimu.

 

Tidak apa-apa, meski kita tak pernah jadi satu, setidaknya aku pernah begitu bahagia bersamamu.

 

Kadang, kau seperti milikku,

Kadang, kau seperti orang asing yang hendak pergi dariku,

Bagimu, aku memang sebecanda itu.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masih dia

Menyukainya adalah hal yang tidak pernah kusangka, dia tidak pernah berbuat apa-apa, tapi aku malah jatuh cinta.  Katanya, cinta pada pandang pertama itu tidak ada, tapi kenapa perasaan ini begitu nyata? Tidak paras, etika, atau strata, bahkan pertanyaan mengapa jatuh cinta padanya saja tidak bisa ku jawab karena. Sebab, yang kutahu, semenjak ada dia, aku tidak tertarik pada apa-apa.  Tetapi, rasa yang besar itu tidak cukup menjadi alasan untuk bersama, jika pemilik rasa hanya aku saja.  Tuhan memang kabulkan permohonanku agar aku dapat terus melihatnya, tetapi aku lupa meminta pada-Nya agar dia juga memiliki rasa yang sama.  Dia membuat orang itu buta, bahwa ada orang yang begitu mencintainya, tapi ia tidak dapat melihat apa-apa. Tulusku tidak membuatnya luluh, ia tetap berjuang pada cerita yang menyakitkan.  Meski dia tahu apa yang kurasa, seberapa nyata cintaku padanya, dia tetap biasa saja.  Dan pada akhirnya, aku tidak dapat berbuat apa-apa, membuatnya...

Cerita Pendek : Kisah Kita dan Akhir Bahagia

Kisah Kita dan Akhir Bahagia Tungkainya mengayun terseok-seok, me nyekap hening malam mencekam. D itiap tarikan napas nya disertai pula keluh kesah juga sesal yang dengan segenap kekuatan menyergap, menciptakan sensasi pilu yang amat . Ingin sekali rasanya ia mengadu pada langit diatas, tentang semua kesakitan dan perilaku tak adil dunia. Diatas sana, bintang n ampak berkilau memancarkan cahaya kelap-kelip memesona. Ia mengumpat dalam hati, betapa kejam bintang disana, mereka tetap indah ditengah kacau balau dunia, dunia nya, dunia Rey. “Daripada menjadi bulan yang terang karena menerima cahaya dari sang matahari, aku lebih suka jadi bintang. Meski nampak kecil, mereka hanya terlampau jauh , dan yang pasti mereka memiliki cahayanya sendiri, dan bersinar tanpa bantuan orang lain” , ucap seorang suatu ketika. Rey mengusap wajah nya kasar, seketika meringis perih, lupa pada memar biru serta lecet diwajah babak belurnya . Tak begitu jelas teringat dimana ia mendapat lu...